Qiffa Training & Consulting

Corporate Plan Trap : Menggambar Peta Buta Atau Salah Baca Peta

Corporate plan seharusnya menjadi peta perjalanan.
Bukan kertas yang terus digambar ulang setiap kali kendaraan keluar jalur.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang hendak bepergian dari Jakarta ke Surabaya tentu dapat mengubah rute jika terjadi banjir, jalan ditutup, atau ada kecelakaan. Itu adaptasi. Tetapi jika setiap beberapa jam tujuan digeser, jalan yang dipilih diganti, lalu waktu tempuh diperpanjang karena perjalanan ternyata lebih sulit dari perkiraan, persoalannya mungkin bukan lagi kondisi jalan. Bisa jadi peta awalnya yang buruk atau pengemudinya yang tidak tahu bagaimana mencapai tujuan.

Hal yang sama berlaku pada bank. Perubahan corporate plan memang diperlukan ketika lingkungan bisnis berubah secara material. Namun jika target, prioritas, dan asumsi terus direvisi setiap kali realisasi tidak sesuai harapan, kita perlu bertanya lebih jujur: apakah bank sedang beradaptasi terhadap perubahan, atau sebenarnya sedang menggambar ulang peta agar posisi kita terlihat tidak terlalu jauh dari tujuan?

Aspirasi Bukan Mimpi
Kesalahan pertama biasanya terletak pada asumsi yang terlalu optimistis. Bayangkan seseorang membuat rencana keuangan rumah tangga dengan asumsi gaji naik 20%, pengeluaran turun 10%, dan tidak ada kebutuhan mendadak. Di atas kertas, semuanya terlihat indah. Tetapi begitu biaya sekolah naik, kendaraan rusak, dan pengeluaran rumah tangga membengkak, seluruh rencana berantakan. Jika kemudian ia berkali-kali mengganti angka tabungan agar tetap terlihat mencapai target, masalahnya bukan pada kalkulator. Masalahnya adalah ia membuat rencana berdasarkan kehidupan yang diharapkan, bukan kehidupan yang kemungkinan besar akan dijalani.

Dalam corporate plan, fenomena yang sama dapat terjadi ketika proyeksi kredit, DPK, laba, fee based income, efisiensi, atau bisnis baru, dibangun terlalu banyak berdasarkan aspirasi dan terlalu sedikit berdasarkan pengujian kapasitas serta skenario risiko. Ketika realisasi meleset, target diturunkan atau periode pencapaian diperpanjang. Angkanya berubah, tetapi akar masalahnya tetap tinggal.

Angkat Beban Sesuai Kemampuan
Kesalahan kedua adalah menetapkan terlalu banyak tujuan sekaligus tanpa menghitung tenaga yang tersedia. Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang bisa saja mengatakan ingin menurunkan berat badan, belajar bahasa asing, membaca 50 buku, berolahraga setiap hari, membangun bisnis sampingan, dan menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga—semuanya dimulai pada bulan yang sama. Secara teoritis tidak ada yang salah. Masalahnya muncul ketika waktu dan energi tidak cukup. Pada akhirnya, semuanya dimulai, tetapi tidak ada yang benar-benar selesai.

Bank juga dapat mengalami hal serupa ketika transformasi digital, ekspansi bisnis, efisiensi, penguatan risk management, pengembangan talenta, dan berbagai agenda lainnya semuanya diberi label “Strategi Prioritas”. Kalau semuanya prioritas, maka secara praktis tidak ada prioritas. Sumber daya terpecah, keputusan melambat, dan organisasi kelelahan mengejar terlalu banyak sasaran. Ketika hasilnya mengecewakan, kesalahan sering disebut sebagai execution issue. Padahal, bisa jadi sejak awal kita memberikan beban 10 kilogram kepada orang yang hanya mampu membawa 5 kilogram.

Masaklah Resep Bisnismu
Masalah berikutnya adalah Gap antara rencana dan tindakan. Semua orang pernah memiliki pengalaman membeli buku tentang olahraga, menonton video tentang pola hidup sehat, membuat jadwal latihan, bahkan membeli sepatu olahraga baru—tetapi tetap tidak berolahraga. Rencananya sempurna. Niatnya kuat. Eksekusinya tidak ada. Dalam organisasi, corporate plan dapat mengalami nasib yang sama. Dokumennya lengkap, presentasinya meyakinkan, targetnya jelas, tetapi tidak diterjemahkan menjadi ownership, anggaran, milestone, keputusan, dan tindakan yang konsisten di lapangan.

Akhirnya strategi hanya hidup dalam rapat dan presentasi, sementara organisasi sehari-hari kembali menjalankan kebiasaan lama. Strategi tanpa eksekusi ibarat resep makanan yang sangat bagus tetapi tidak pernah masuk ke dapur: kita bisa memperdebatkan resepnya sepanjang hari, tetapi tidak akan pernah menghasilkan makanan. Ketika hasil tidak muncul, resepnya kembali diubah. Padahal mungkin bukan resepnya yang bermasalah—kompornya yang tidak pernah dinyalakan.

Fokuslah Pada Tujuan
Yang lebih berbahaya adalah ketika revisi corporate plan mulai berfungsi seperti menggeser tiang gawang setelah pertandingan berjalan. Dalam kehidupan sehari-hari, bayangkan seseorang berjanji akan menabung Rp100 juta dalam setahun. Enam bulan kemudian ia baru memiliki Rp30 juta. Alih-alih mengevaluasi mengapa pengeluaran membengkak atau pendapatan tidak sesuai asumsi, ia mengubah target menjadi Rp70 juta dan menyatakan rencana masih berjalan. Tahun berikutnya target kembali disesuaikan. Secara administratif, target akhirnya mungkin tercapai. Tetapi secara substantif, apa sebenarnya yang berhasil?

Pola yang sama dapat terjadi apabila revisi corporate plan lebih banyak digunakan untuk menyesuaikan target dengan kenyataan daripada memperbaiki penyebab kegagalan. Jika target terus dipindahkan setiap kali kita gagal mencapainya, pada akhirnya bukan kita yang mencapai target, targetlah yang dibuat mendekati kita. Ini bukan berarti setiap revisi salah. Perubahan eksternal memang nyata dan kadang menuntut perubahan strategi. Tetapi setiap revisi seharusnya memunculkan pertanyaan yang lebih keras: apa yang berubah di luar organisasi, apa yang salah dalam asumsi kita dan apa yang gagal dalam eksekusi?

Adaptasi Bukan Sebuah Kegagalan
Karena itu, corporate plan perlu diperlakukan seperti janji perjalanan, bukan sekadar dokumen tahunan. Peta boleh diperbarui ketika jalan berubah, tetapi tujuan tidak boleh diganti hanya karena pengemudi kesulitan mengemudi. Bank perlu memperketat validasi asumsi, membatasi jumlah agenda strategis, memastikan setiap inisiatif memiliki owner dan sumber daya yang jelas, serta membangun mekanisme early warning serta scenario planning sebelum deviasi berubah menjadi kegagalan.

Yang paling penting, setiap revisi harus menjawab satu pertanyaan sederhana: apakah kita mengubah rencana karena dunia berubah, atau karena kita gagal menjalankan rencana? Sebab ada perbedaan besar antara adaptasi dan pembenaran. Adaptasi membuat organisasi lebih siap menghadapi kenyataan; pembenaran hanya membuat kenyataan terlihat lebih nyaman di dalam laporan. Dan pada akhirnya, corporate plan yang paling berbahaya bukanlah corporate plan yang pernah salah. Yang paling berbahaya adalah corporate plan yang selalu terlihat benar karena setiap kali kenyataan membuktikan sebaliknya, rencananya yang diubah.

Scroll to Top